Meninggal Sesuai Kebiasaan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Laporan : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
DALAM kitab man ‘âsya ‘ala syaiin mâta ‘alaihi, Muhamamd Asthal mengisahkan sebuah peristiwa yang sangat menarik. Suatu hari, ia berkunjung ke rumah salah seorang sahabatnya di kota Manshûra, Mesir. Setiba di sana, ia menceritakan tentang tentangganya yang tinggal di lantai atas rumahnya. Menurut penuturannya, semasa hidup tetangganya sangat menggemari musik, sehingga menjadi bahagian yang tak terpisahkan dari kesehariannya. Ia hampir tidak terlihat melaksanakan shalat berjamaah di masjid, bahkan masyarakat sekitar nyaris tidak mengenalnya. Di antara berbagai jenis musik yang didengarkannya, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Umm Kulthum yang merupakan favoritnya.
Kebiasaan tersebut berlangsung bertahun-tahun. Lalu aku dikejutkan dengan suara seorang perempuan tuturnya sembari memanggil dengan suara tersengal-sengal. Kemudian aku pun mencari sumber suara tersebut. Setelah aku dapati ternyata laki-laki yang hidupnya selalu dihiasi musik sedang menghadapi sakaratul maut. Pemandangan itu membuatku menangis dan sedih, lalu berkata, “Wahai jama’ah, bertakwalah kepada Allah Subhanahu Waatala” bapak kalian sedang meregang nyawa melawan kematian. Matikan musik-musik tersebut lalu gantilah dengan bacaan ayat suci al-Quran!
Atas saran tersebut, seluruh penghuni rumah bergegas mematikan musik yang sedang menyala lalu membaca Al-Quran. Ternyata tidak satu penghuni rumah bisa membaca Al-Qur’an. Lalu aku pun membacanya perlahan sehingga seisi rumah hening dan damai. Tak lama berselang, laki-laki yang terbaring tersebut menunjukkan raut kemarahan sembari berkata, tinggalkan itu cukup musik yang aku dengar sebab ia dapat menenangkan jiwaku. Kata-kata itulah ucapan terakhir sebelum meninggal. (Muhammad Asthal, Man ‘Âsa ‘ala Syai-in Mâta ‘alaihi, 64-65).
Di sisi lain, buya HAMKA pernah bercerita tentang saudara perempuan ayahnya Aisyah yang sudah menginjak usia usia 86 tahun. Sejak beberapa tahun sebelum meninggal, keadaan bibinya sudah telah pekak tuli, sehingga tidak mendengar lagi apa yang kita bicarakan di dekatnya. Tetapi sejak masih gadisnya ia selalu menuruti ajaran ayahnya, Tuanku Syaikh Amrullah untuk menghatamkan Al-Quran. Dan kalau tidak ada kesempatan, ia membaca surat Yasin, al-Waqiah, al-Kahfi, al-Muluk dan beberapa surat lain yang beliau hafal di luar kepala.
Dan surat-surat itulah yang selalu beliau baca. Maka meskipun sudah tua dan telinga sudah pekak, namun beliau tidak sampai pikun. Setiap hari tidak pernah absen membaca Al-Quran walau dalam keadaan sudah tuli. Setelah jatuh sakit akan meninggal, mulutnya masih melantuntkan bacaan ayat-ayat biasa dibacanya. Dan beberapa jam lagi akan menutup mata masih sempat senyum dia berkata bahwa dia mendengarkan suara-suara yang indah merdu dari bacaan Al-Quran.
Lalu beliau suruh anak-cucu yang mengelilinginya turut berdiam mendengarkan bacaan itu. Padahal bacaan itu tidak didengar oleh mereka. Dan beliau pun meninggal dalam senyum, barangkali dalam suasana mendengar suara merdu yang didengarnya. (HAMKA, Tafsîr al-Azhar, 10/8051-8052).
Berdasarkan dua kisah di atas dapat dipahami bahwasanya keadaan seseorang saat meninggal tidak sama. Ada orang-orang yang akan menutup usianya dalam keadaan buruk (sûul khâtimah), dan ada juga yang mengakhiri hayatnya dalam keadaan baik (husnul khâtimah). Dua keadaan itu tidak datang secara tiba-tiba, baik atau pun buruk akhir seseorang merupakan rangkaian perjalanan hidupnya. Jika jalan kebaikan yang ditempuh seperti bibi buku HAMKA atau jalan keburukan seperti yang dikisah oleh Muhammad Asthal. Para ulama menuturkan seseorang meninggal berdasarkan kebiasaan.
Para ulama berkata:
مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْئٍ مَاتَ عَلَيْهِ وَبُعِثَ عَلَيْهِ
Seseorang yang hidup atas sesuatu meninggal dan dibangkitkan atas hal itu. (Abu Bakar Jabir al-Jazāiri, Tafsîr al-Aliyyi al-Kabîr, 327)
Keadaan akhir seseorang berbanding lurus dari kebiasaannya dan amal yang terus-menerus dilakukan. Apa yang menjadi dominasi berpotensi menjadi keadaan yang menyertainya ketika menghadapi kematian.
Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya membiasakan amal shaleh dan menjauhi kebiasaan maksiat, karena kebiasaan tersebut membentuk karakter, memengaruhi akhir kehidupan dan menjadi dasar pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Waatala.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ.
Dari Abdullah bin Abbas berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda: Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal dunia. (HR. Muslim)
Adapun makna "dibangkitkan sesuai keadaan ketika meninggal" bukan sekadar keadaan fisiknya, tetapi juga keadaan iman, amal, dan akhir hidup. Seseorang yang wafat dalam keadaan baik niscaya akan dibangkitkan dalam keadaan mulia, sebaliknya seseorang yang meninggal dalam kemaksiataan akan dibangkitkan dalam keadaan tercela.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
"Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)."(QS. Al-Qur'an 53:39–40)
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa akhir kehidupan seseorang bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan, melainkan cerminan dari kebiasaan yang dijalani sepanjang hidupnya. Kebiasaan yang dibangun di atas amal shaleh akan membimbing kepada husnul khatimah, sementara orang yang terbelenggu dengan kemaksiatan berpotensi memperoleh penutupan yang buruk.***

Tulis Komentar